Pelangi
Pelangi merupakan fenomena optik dan meteorologi yang menghasilkan spektrum cahaya hampir selanjar di langit apabila matahari bersinar semasa hujan turun. Pelangi dihasilkan apabila cahaya terbias melalui titik air di udara
Fisika Astronomi
Astronomi adalah ilmu alam yang berkaitan dengan studi tentang benda-benda langit (seperti bintang, planet, komet, nebula, gugus bintang dan galaksi) dan fenomena yang berasal dari luar atmosfer Bumi (seperti radiasi latar belakang kosmik). Hal ini berkaitan dengan evolusi, fisika, kimia, meteorologi, dan gerakan benda-benda langit, serta pembentukan dan pengembangan alam semesta.
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Mei 2012
Bentuk Air di Antariksa Bulat, Mengapa?
Salah satu sifat dasar air adalah selalu mengikuti bentuk wadahnya. Gaya
gravitasi Bumi-lah yang membuatnya selalu menyesuaikan dengan bentuk ruangan di
sekitarnya.
Namun, hukum fisika tersebut hanya berlaku
di permukaan Bumi. Di antariksa, pengaruh gaya gravitasi memberikan efek
berbeda terhadap air.
Seperti astronot, satelit, dan objek
apapun, air juga melayang jika berada di orbit Bumi. Air, tidak akan mengikuti
bentuk wadahnya dan akan selalu berbentuk bulat.
Mengapa demikian?
Benda-benda di sekitar Bumi tetap
terpengaruh gaya gravitasi meskipun semakain kecil seiring jaraknya dengan
Bumi. Jadi, istilah gravitasi nol sebenarnya kurang tepat.
Yang terjadi sebenarnya, objek-objek
tersebut jatuh ke Bumi namun sedikit demi sedikit dengan sudut kemiringan
sangat kecil. Keadaan ini membuatnya kelihatan melayang dan dirasakan sebagai
kondisi tanpa bobot.
Cairan yang melayang di antariksa
memperoleh tekanan yang relatif sama dari lingkungan sekitarnya. Hal tersebut
menyebabkan tegangan di permukaan air sama rata dan ikatan antarmolekulnya
membentuk lapisan terluar yang elastis. Ikatan antarmolekulnya merata sama kuat
sehingga bentuk yang paling efektif adalah berupa bulatan.
Lantas, bagaimana cara minum di luar
angkasa jika airnya melayang-layang? Ya telan saja, karana gaya peristaltik
tenggorokan dan lambung sanggup mengatasinya.
Warna Air Laut
Perubahan warna air laut dapat terjadi bergantung pada
molekul air dalam menyerap dan memantulkan cahaya matahari, zat air yang
terlarut di air laut tersebut ,dan jenis endapan, serta organisme yang hidup
dalam dasar laut.
Air Laut
Berwarna Putih
Penyebab air
laut berwarna putih karena ada endapan glacial di dasar lautnya. Biasanya terdapat
di daerah kutub.
Air Laut Berwarna Hijau
Air Laut Berwarna Hijau
Ini
disebabkan karena pada dasar laut tersebut terdapat fitoplankton yang
memancarkan kandungan klorofilnya untuk melakukan fotosintesis. Pada saat
cahaya matahari datang,klorofil pada fitoplankton menyerap sebagian besar warna
merah dan warna biru, dan memantulkan warna hijau. Air Laut berwarna hijau ini
biasa terlihat di perairan dekat pantai.
Air Laut Berwarna Kuning
Air Laut Berwarna Kuning
Laut
berwarna kuning disebabkan banyaknya endapan lumpur didasar laut tersebut.
Lumpur tersebut merupakan hasil metabolisme dari berbagai matrial di darat yang
menghasilkan tanah yang berwarna coklat kekuningan, yang terbawa aliran air
hingga sampai di lautan. Contoh perairan ini laut kuning di perairan antara
jepang dan cina.
Air Laut Berwarna Hitam
Air Laut Berwarna Hitam
Pada dasar
laut perairan yang berwarna hitam ,terdapat banyak endapan tanah loss berwarna
hitam, contohnya Laut Hitam yang berada di antara turki dengan benua eropa.
Air Laut
Berwarna Merah
Warna merah
ini disebabkan karena pada dasar lautnya ada ganggang merah ,contohnya laut
merah yang berada diantara Saudi Arabia dengan mesir.
Kenapa api padam jika diguyur air ?
![]() |
| Gambar 1 |
Kalau ada nyala api, pasti disitu ada tiga
unsur. Apa itu ? Unsur pertama adalah oksigen atau sering juga disebut zat
asam, kedua, bahan bakar, dan ketiga, panas. Oleh para ahil, ketiga unsur
pembentuk api itu dinamai segitiga api (Gambar 1). Pendek kata, untuk
menimbulkan api ketiga unsur itu harus ada dan berhubungan. Oleh sebab itu,
apabila ingin memadamkan api, maka paling sedikit satu diantara ketiga unsur
itu harus dihilangkan atau dipisahkan. Atau dengan kata lain, hubungan diantara
ketiga unsur itu harus diputuskan.
Unsur pertama oksigen. Udara di sekitar
kita ini mengandung oksigen, yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup.
Jadi, oksigen tidak mungkin dihilangkan. Oksigen hanya bisa dipisahkan dari
ketiga unsur api. Unsur kedua adalah bahan bakar. Bahan bakar bisa dihilangkan.
Demikian juga panas. Bagaimana caranya ? Salah satu caranya, ya diguyur air
(Gambar 2).
![]() |
| Gambar 2 |
Jika kita mengguyur api dengan air, apa
yang terjadi ? Pertama-tama suhu panas, salah satu unsur segitiga api akan
hilang dan menjadi dingin. Kemudian yang kedua, sebagian air yang dipergunakan
untuk mengguyur akan menguap menjadi uap air. Nah, uap air inilah yang akan memisahkan
api dari oksigen. Karena dua hal dari segitiga api, yaitu panas dan oksigen,
tidak ada, padamlah api. Satu unsur hilang saja padam. apalagi dua. Namun, tidak semua api bisa dipadamkan
dengan air. Cara memadamkan api dengan air ini hanya bisa dilakukan apabila
bahan bakarnya berupa kayu, kain, plastik, atau kertas. Kalau api merupakan
hasil percikan listrik atau ada unsur minyak tanah, atau bensin, maka tidak
bisa dipadamkan dengan air. Mengguyurkan air pada api akibat percikan listrik sangat
berbahaya, karena air adalah penghantar listrik. Si pengguyur bisa tersengat
aliran listrik. Jika terjadi kebakaran akibat listrik, hal pertama yang harus
dilakukan adalah memutuskan terlebih dahulu aliran listrik. Setelah yakin tidak
aliran listrik baru bisa dipadamkan dengan air.
Bagaimana dengan minyak, atau bensin ?
Karena berat jenis minyak atau bensin lebih kecil dibandingkan dengan air, maka
ketika diguyur air, minyak atau bensin akan mengambang di atas air. Karena itu,
minyak atau bensin itu tetap berhubungan dengan oksigen. Alhasil, api akan
tetap menyala. Untuk memadamkan api jenis ini dibutuhkan pemadam kimia, yang
biasanya berbentuk busa, atau zat karbondioksida.
Jembatan Cair, Keajaiban Fisika
1. Jembatan yang terbuat dari zat cair? Bukan
sulap bukan sihir, sebab itu bisa dibuat dengan ilmu fisika. Sebuah tim
peneliti dari Austria mendemonstrasikan bahwa kini kita dapat membangun
jembatan yang tersusun dari zat cair. Dalam percobaan tersebut, tim ini
berhasil memperagakan sebuah jembatan yang tersusun dari air murni yang telah
didestilasi tiga kali. Mereka juga menghubungkan celah sepanjang 2,5 centimeter
hingga selama 45 menit, seakan melawan pengaruh gaya gravitasi. Sepintas hal
ini terdengar seperti sihir, walaupun jelas hanyalah rekayasa fisika. Lantas,
apa rahasianya?
Tegangan tinggi
Salah satu kunci dalam percobaan tersebut
adalah pemakaian tegangan listrik yang tinggi. Tim tersebut menempatkan air
murni yang akan dijadikan jembatan itu di dalam dua buah gelas kaca, kemudian
sepasang elektroda diletakkan di dalamnya. Kedua gelas kaca diletakkan
berdekatan namun tidak berhimpitan. Dalam waktu hanya seperseribu detik setelah
perbedaan tegangan sebesar 25 ribu volt diterapkan melalui sepasang elektroda
tersebut, air di dalam salah satu gelas kaca merambat cepat ke tepian dan
secepat kilat melompat melewati celah di antara kedua gelas kaca.
Apa yang menyebabkan tegangan tinggi
tersebut mampu melontarkan air melompati celah dan lalu menjaga “jembatan cair”
tidak runtuh dipengaruhi gravitasi? Saat ini belum ada yang mengetahuinya
dengan pasti. Walaupun begitu, beberapa kesimpulan awal sudah bisa ditarik dari
percobaan itu.
Secara kimiawi sebuah molekul air
dilambangkan dengan kode H2O. Ini karena memang molekul air terdiri dari dua
atom hidrogen (H) yang bermuatan positif dan sebuah atom oksigen (O) bermuatan
negatif. Saat genangan air murni dipengaruhi oleh medan listrik, seperti saat
tegangan tinggi diterapkan pada percobaan di atas, maka molekul-molekul air
akan berjejer rapih dan saling bergandengan: atom-atom hidrogen tertarik ke
elektroda bermuatan negatif sementara atom oksigen menjurus ke elektrode
positif. Selama ini hal ini sudah diketahui berlaku pada tingkat molekuler,
akan tetapi belum pernah diperagakan sebelumnya pada tingkat makroskopik
seperti pada percobaan jembatan cair di atas.
Untuk menguji hipotesa ini, tim peneliti
yang sama kemudian menggunakan sebatang kaca yang telah lebih dulu diberi
muatan listrik. Ternyata memang medan listrik dari batang kaca mampu membuat
bentuk jembatan cair itu berubah dari lurus menjadi melengkung mendekati batang
kaca.
Air Mengalir Dalam Air
Di antara pengukuran lain yang dilakukan,
tim tersebut juga mengukur variasi kepadatan cairan di sepanjang “jembatan dari
air” yang terbentuk.
Mereka menggunakan metode optik yang umum
disebut ‘visualisasi Schlieren’ . Dalam metode ini, berkas-berkas cahaya
dilewatkan tegak lurus terhadap “jembatan dari air” dan kemudian melewati
tepian sebuah silet tajam sebelum mencapai detektor cahaya. Jika kepadatan
cairan di sepanjang jembatan itu seragam nilainya, maka semua berkas cahaya
akan melewati tepian silet dan tertangkap oleh detektor. Akan tetapi, jika ada
variasi kepadatan cairan pada jembatan itu, variasi itu akan membelokkan dan
mengganggu jalan sebagian berkas cahaya yang lewat, sehingga total berkas yang
tertangkap detektor menjadi berkurang.
Dengan metode tersebut, tim dari Austria
itu menemukan bahwa kepadatan cairan pada jembatan memang tidak seragam, di
mana sisi bagian dalam dari jembatan lebih padat daripada sisi luarnya. Selain
itu, variasi kepadatan cairan tersebut tidaklah statis, melainkan mengalir dari
gelas kaca yang satu ke yang lainnya. Sekedar sebagai analogi, anda bisa
membayangkan sebuah kabel ko-axial (walaupun analogi ini tidaklah sangat akurat
karena kedua fenomena ini berasal dari hukum fisika yang berbeda) di mana kabel
di lingkaran dalam mengalirkan arus listrik sedangkan kabel di lingkaran luar
hanyalah membantu menyalurkan aliran itu. Begitu juga, dalam “jembatan cair”
ini, molekul air yang mengalir adalah molekul-molekul di sisi dalam, sedangkan
molekul-molekul di sisi luar hanyalah diam dan membantu aliran molekul-molekul
di sisi dalam jembatan.
Untuk Apa Selanjutnya?
Tim dari Austria itu ingin mempelajari
dengan lebih detil bagaimana sesungguhnya struktur molekul-molekul yang
membentuk “embatan cair itu. Untuk itu mereka merencanakan percobaan lanjutan
yang akan menggunakan sinar-X.
Selain untuk menjawab keingintahuan secara
ilmu fundamental, percobaan ini juga punya potensi aplikasi yang besar. Salah
satunya berkaitan dengan bidang mikrofluida , di mana cairan-cairan dengan
volume sangat kecil dikendalikan dengan presisi dan diteliti dengan akurat,
baik untuk pendeteksian biologis, medis, maupun lingkungan.
Saat ini masih banyak kendala yang perlu
dipecahkan sebelum sebuah aplikasi nyata bisa diperoleh. Salah satunya adalah
bahwa jembatan cair ini tidak bisa bertahan jika air murni yang telah
didestilasi tiga kali tersebut dikotori oleh debu dan partikel. Akibat
muatan-muatan tambahan yang dibawa oleh debu dan partikel itu, maka jembatan
cair itu akan dilewati arus listrik yang semakin tinggi.
Suhu pada jembatan itu ikut meningkat, dan
jembatan akan runtuh karena gerakan acak molekul-molekul air mengalahkan efek
medan listrik yang telah menjajarkannya dengan rapi. Walaupun begitu, bukan
tidak mungkin percobaan-percobaan berikutnya akan memunculkan kejutan dan
gagasan baru yang akan memecahkan kendala di atas.
Bentuk padat tiap zat pasti lebih padat
dari bentuk cairnya namun hal ini tak
berlaku bagi air. Saat air membeku,
volumenya meningkat. Perilaku aneh ini membuat bongkahan es
bisa mengambang. Serupa benda solid lain, perbedaan yang ada adalah struktur
heksagonal kristal es yang menyisakan banyak ruang kosong yang membuat es tak
padat.
Tak Ada Duanya
Dalam sejarah salju, tiap struktur cantik
ini sangat unik. Alasannya, kepingan salju berawal dari prisma heksagonal
sederhana. Kepingan salju turun dipengaruhi suhu, tingkat kelembaban dan
tekanan udara yang membuatnya tak pernah ada yang kembar. Menariknya, kepingan
salju selalu tumbuh dengan sinkronisasi sempurna.
Fenomena Air Mengejutkan Versi Fisika
Air memiliki kemampuan untuk membasuh,
menenangkan dan memelihara. Di sisi lain, air juga memiliki kekuatan brutal
seperti saat tsunami.
Di sisi lain, air akan sangat mengejutkan
Anda, bahkan mampu mementahkan pemahaman ilmiah.
Beku
Orang logis pasti menganggap butuh waktu
lebih lama bagi air panas untuk mencapai suhu nol deraja celcius dan membeku
dibanding air dingin. Anehnya pada 1963, siswa SMA Tanzanian Erasto Mpemba
menemukan, air panas lebih cepat beku dibanding air dingin dan tak seorang pun
mengetahui mengapa begitu.
Salah satu kemungkinan yang ada adalah
proses sirkulasi panas yang disebut konveksi. Dalam wadah air, ketika hangat
naik ke atas mendorong air yang lebih dingin di bawahnya maka akan tercipta
‘hot pop’. Ilmuwan memperhitungkan, konveksi ini mampu mempercepat proses
pendinginan dan segera mencapai titik beku.
Zat licin
Pemeriksaan ilmuwan satu setengah abad
belum berhasil memecahkan mengapa permukaan es licin. Ilmuwan sepakat, lapisan
tipis air cair di atas es beku menjadi penyebabnya. Hingga kini, tak ada
konsensus mengapa es memiliki lapisan itu.
Teori menduga, lapisan ini muncul akibat
ski atau terpeleset sehingga terjadi kontak dengan es yang kemudian meleleh.
Lainnya menduga, lapisan cair ini ada akibat gerak inheren molekul permukaan.
Namun faktanya, hingga kini, misteri ini belum terpecahkan.
Aquanut
Di Bumi, air mendidih menciptakan ribuan
gelembung kecil. Di luar angkasa, air mendidih menciptakan satu gelembung
besar. Dinamika fluida ini sangat rumit hingga fisikawan tak mengetahui apa
yang terjadi pada air mendidih pada kondisi bergravitasi nol hingga eksperimen
dilakukan pada 1992.
Fisikawan memutuskan, fenomena ini
merupakan hasil ketiadaan dua fenomena yang disebabkan gravitasi, yakni
konveksi dan daya pengapungan.
Cairan melayang
Saat tetes air mendarat di permukaan yang
lebih panas dari titik didih, air bisa bergerak cepat di permukaan jauh lebih
lama dari dugaan. Efek yang disebut leidenfrost ini terjadi saat lapisan
terbawah air menguap dan molekul gas air di lapisan itu tak punya tujuan.
Akibatnya, sisa tetes air tak jatuh di permukaan panci panas.
Selaput gila
Terkadang, air tampak menolak hukum
fisika. Kekuatan tensi permukaan yang membuat lapisan terluar badan air berlaku
seperti selaput fleksibel. Tensi permukaan muncul akibat ikatan molekul air
saling merenggang. Karenanya, molekul mengalami tarikan ke dalam dari molekul
di bawahnya.
Air akan menyatu hingga ada tenaga
meruntuhkan ikatan lemah itu. Misalnya, pada klip kertas yang tetap berada di
atas air meski besi lebih padat dari air dan seharusnya tenggelam, tensi
permukaan mencegahnya.
Salju Mendidih
Saat terdapat gradien suhu besar, sebuah
efek mengejutkan akan terjadi. Jika air mendidih bersuhu 100C disiram ke udara
yang bersuhu -34C, maka air berubah menjadi salju dan terbang. Hal ini terjadi
karena udara dingin ekstrim sangat padat dan tak siap merilis uap air.
Di sisi lain, air mendidih siap merilis
uap. Saat air dilempar ke udara, udara terpecah menjadi tetesan dan disinilah
letak masalahnya. Banyaknya uap yang melebihi batas udara membuat ‘partisipan’
berubah menjadi partikel mikroskopik di udara dan menciptakan salju.
Ruang Kosong
Bentuk padat tiap zat pasti lebih padat
dari bentuk cairnya namun hal ini tak
berlaku bagi air. Saat air membeku,
volumenya meningkat 8°C. Perilaku aneh ini membuat bongkahan es
bisa mengambang. Serupa benda solid lain, perbedaan yang ada adalah struktur
heksagonal kristal es yang menyisakan banyak ruang kosong yang membuat es tak
padat.
Tak Ada Duanya
Dalam sejarah salju, tiap struktur cantik
ini sangat unik. Alasannya, kepingan salju berawal dari prisma heksagonal
sederhana. Kepingan salju turun dipengaruhi suhu, tingkat kelembaban dan
tekanan udara yang membuatnya tak pernah ada yang kembar. Menariknya, kepingan
salju selalu tumbuh dengan sinkronisasi sempurna.
Asal Usul Air
1.
Asal Usul Air
Asal usul yang menyelimuti 70ÂșC Permukaan Bumi masih menjadi misteri bagi
ilmuwan. Menurut ilmuwan, air yang ada di Bumi 4,5 miliar tahun silam menguap
akibat panasnya matahari muda. Artinya, air di Bumi saat ini bukan berasal dari
Bumi itu sendiri.
Terdapat teori, 4 miliar tahun silam di
masa Late Heavy Bombardment, terdapat benda masif menghantam Bumi dan benda ini
berisi air. Selain itu, terdapat teori komet menjadi ‘dalang’ pemberi air bagi
planet hunian manusia ini.
Kini muncul masalah baru, air yang ada
menguap dari komet utama (Halley, Hyakutake, dan Hale-Bopp) memiliki jenis yang
berbeda dari H2O Bumi yang menunjukkan, komet ini bisa jadi bukan sumber semua
air yang ada.
Langganan:
Postingan (Atom)









